Selasa, 08 Januari 2019
Ialah Namamu
Matahari masih bersinar di atas kepalaku
Pun degub ini masih sama gilanya ketika yang teringat ialah namamu
Meski samar rasa kepergianmu sesekali menyematkan pilu
Kita yang pergi dengan belum selesainya sesuatu
Rasa yang saling namun tak menyatu
Berserakan sepanjang anak-anak waktu yang sekali lagi kembali membawaku kepadamu
Ketika anginpun tak mampu menghempaskan sedikit dari rinduku yang merangkak kelu
Akan kusimpan sepenggal berkas senyummu sebagai artefak menakjubkan yang pernah kutemu
Kutemu meski tak menjadi milikku utuh
Ialah namamu, detak tak biasa di sela bingar hidupku
Irama irasional mengejutkan yang menguatkan detak rapuhku
Andai bisa merekayasa waktu
Kan ku buat setiap detik menjadi abadi bersamamu
Ialah namamu, yang kepadanya pertanyaan itu bertamu tanpa titik temu
'Akankah kita berani mengakui rindu ?'
Ialah pertanyaanku, yang tak kunjung mendapati jawaban atas namamu
Ialah aku, yang bersembunyi di balik keangkuhan pura-pura tak mencintaimu
Ialah kita, pergi dengan rindu yang dikemas rapi, berselimut sunyi di di balik relung.
Rupanya, kita tak lebih dari sekedar pengecut di hadapan rindu.
Mungkin bukan kita, hanya aku.
--.
[Ialah Namamu]
#penaputih
08-01-2019
Sabtu, 15 Desember 2018
Asap
Apa yang lebih gigil dari sepi ?
Ketika pupusmu lebih kelabu dari mimpi
Setipis kabut pagi yang turun tanpa tapi
Tapi,
Gigil ialah membuat orang bersahabat dengan api
Pupus ialah untuk diwarna sekali lagi
Kabut pagi yang turun itu, pasti akan ada waktunya untuk terangkat kembali
Lalu bertahan dan mencoba sekali lagi akan dipilih
daripada mengakhiri diri sendiri
Sebab
Setiap asap dari apa-apa yang terbakar,
akan selalu menemukan jalannya menuju langit.
[Asap]
#penaputih
15-12-2018
Minggu, 02 Desember 2018
Dua Puisi Antara Kita
Mengapa
'Aku
suka paving block ini', ucapmu
'Mengapa
?', tanyaku
'Batu-batunya
tersusun membentuk setapak yang membawaku padamu'.
'Mengapa
aku ?
Aku
adalah kacau. Poranda yang tak tau caranya berbenah'.
'Aku
tau.
Kau
kacau yang ingin sembuh. Poranda yang tengah mencari cara berbenah. Puncak
malam yang sedang menuju subuhnya'.
'Tapi,
mengapa ?',
'Karna
kau selalu bertanya mengapa, hingga suatu saat nanti kau membuatku tak bisa
lagi menjawab: saat kau bertanya padaku mengapa aku mencintaimu'.
---.
Matahari Terbit
'Kau
tau pemandangan apa yang paling indah di dunia ini ?'
'Apa
?'
'Matahari
terbit'.
'Dan
sekarang aku yang bertanya, mengapa ?'
'Tak
ada yang lebih indah selain cahaya. Saat ia meretas, ketika itu pula kegelapan
runtuh. Kehidupan baru dimulai. Kasih Tuhan yang nyata untuk semesta. Tuhan
maha indah'.
Kau
tersenyum. Kita terdiam. Barangkali sibuk dengan isi hati masing-masing.
Lalu
kau berkata memecah hening :
'Kini,
dapat kulihat matahari terbit di matamu'.
'Ya.
Karna kau lah matahariku, dan kau ada di depan mataku'.
Tuhan,
terimakasih atas setitik cahaya yang kau berikan dalam wujudnya.
Ia
yang mencintai-Mu,
ia
yang aku cintai agar membawaku semakin cinta pada-Mu.
Jaga
kami dalam naungan cinta-Mu ya Rabb.
Minggu, 11 November 2018
PIRING DAN GELAS-GELAS KOTOR
[PIRING DAN GELAS-GELAS KOTOR]
Mereka terbengkalai di tempat cucian
Ditinggalkan setelah gelaran pesta besar itu
Diselimuti minyak lengket dan sisa gula membusuk yang mulai didatangi semut
Barangkali kita seperti piring dan gelas-gelas kotor itu
Belepotan dosa setelah pesta di panggung fana itu
Kita terima semua nikmat yang maksiat di pesta itu
Di panggung megah yang sendirinya telah melupakan fana di hadapan gemerlap
Kita inilah piring dan gelas-gelas kotor
Mencari kesadaran
Untuk rela membersihkan diri
Sebelum menjadi kerak
Retak
Melekat
Menebal
Sebelum kian perih tuk dibersihkan.
5-11-2018
Kamis, 01 November 2018
Pasir, Debu, dan Ia yang dalam Perjalanannya Menjadi Debu
[Pasir, Debu, dan Ia yang dalam Perjalanannya Menjadi Debu]
Pasir dan debu berpadu
Menghampar luas dalam sunyi semesta
Kerap kali dikunjungi anak manusia
yang jenuh dengan bising dan merindukan sunyi
Sunyi ini menyejukkan
Hanya kita, bersama dalam licin pasir
Menapaki sajak-sajak pasir yang tergilas roda
yang bisu menyaksikan setiap kisah
Kita adalah kenangan
Dalam dua dimensi yang mengabadikan rasa
Pada butir pasir itu bersemayam semua kerinduan pada yang pernah
dan kepada langit aku senantiasa berterus terang
Perjalanan kita di padang berpasir itu telah lama usai
Namun rindu tak akan berhenti bernyanyi
Kita adalah debu-debu yang bernyawa
Karenanya, tetaplah menjadi baik kawan
Tanda syukur atas nyawa yang telah dianugerahkan
Semoga kita kan bersua kembali
Semoga persahabatan kita kekal, sampai kita tuntas jadi debu.
#penaputih
1-11-2018
Sabtu, 20 Oktober 2018
Realita
senja telah
sempurna membuat gelap meretas
Lenyap
cahaya di pucuk-pucuk daun pohon yang meranggas
Tentang kau
dan aku yang tak jua tuntas
Dua kepala
yang berselisih dan terjebak pada bias
Satu
peristiwa lain pemaknaan
Angin telah
merubah arah
Yang hampir
bergandeng mendadak tak searah
memungut
lagi detik-detik yang meranggas sendirian
Angin
membentur ranting
Dan daun pun
gugur
Merontokkan
segala rasa, harap, beserta sepaket cemas yang menduga-duga
Akankah
sanggup tabah mematikan sesuatu yang pernah ada ?
Rabu, 17 Oktober 2018
Romance de Amor
Dalam alun Romance de Amor
Aku melarut
Menguraikan kalut
yang diam-diam membalut
Hidup dan segala hiruk yang semakin marak,
melahirkan kalut yang kadang tak perlu.
Romance de Amor,
Jadi pengingat bahwa keindahan masih ada meski tanpa wujud
pun ketenangan jiwa masih amat dapat diusahakan.
Masa bodo dengan semua yang terlepas
Masa bodo dengan yang sudah terjadi, pun yang belum sempat terjadi
bahkan yang tak akan pernah terjadi sama sekali
Sebab kata orang bijak itu, takdir ialah tak mengenal andai.
Sekarang,
Penaku macet, aksaraku seret
Kalimatku ruwet
Tangispun sudah lama mampet
Ketika kata sudah berhenti mengalir
dan semua telinga sudah tertutup, maka :
Romance de amor,
jadi mirasku malam ini.
-Romance de Amor
17-10-2018
Langganan:
Postingan (Atom)




